Seseorang mengerjakan laporan keuangan menggunakan kalkulator dan laptop di atas meja kerja

Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang: Komponen dan Contohnya

Laporan laba rugi perusahaan dagang adalah laporan keuangan yang merangkum pendapatan, biaya, dan hasil akhir berupa laba atau rugi dalam periode tertentu. Berbeda dari perusahaan jasa yang tidak menjual barang fisik, perusahaan dagang punya komponen khusus bernama Harga Pokok Penjualan (HPP) yang menjadi pembeda utama dalam struktur laporan ini.

Laporan ini dikenal juga dengan sebutan income statement atau profit and loss statement. Fungsinya tidak sekadar mencatat angka, tapi menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis: apakah harga jual perlu dinaikkan, apakah biaya operasional perlu dipangkas, dan apakah bisnis berjalan sesuai target.

Perbedaan Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang vs Jasa

Perusahaan jasa menghasilkan pendapatan dari layanan, bukan dari penjualan barang. Karena itu, laporan laba ruginya tidak mengenal HPP. Sementara pada perusahaan dagang, HPP adalah komponen yang wajib ada dan nilainya bisa sangat besar tergantung skala bisnis.

Selain itu, perusahaan dagang memiliki akun persediaan barang dagangan yang perlu dicatat dan dihitung di awal serta akhir periode. Nilai persediaan ini langsung masuk ke perhitungan HPP dan memengaruhi angka laba kotor yang muncul di laporan.

Komponen Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang

Secara urutan, laporan laba rugi perusahaan dagang terdiri dari beberapa bagian yang disusun dari atas ke bawah:

1. Pendapatan Penjualan Bersih

Ini adalah total penjualan barang dagangan dikurangi retur penjualan dan potongan penjualan. Tidak semua barang yang dikirim ke pembeli pasti diterima dan dibayar lunas, sehingga penyesuaian ini penting untuk mendapatkan angka pendapatan yang akurat.

Rumusnya: Penjualan Bersih = Penjualan Bruto – Retur Penjualan – Potongan Penjualan

2. Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang akhirnya terjual. Bagi perusahaan dagang yang membeli barang jadi untuk dijual kembali, rumus HPP-nya adalah:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir

Pembelian bersih sendiri dihitung dari total pembelian ditambah beban angkut pembelian, lalu dikurangi retur pembelian dan potongan pembelian. Persediaan akhir biasanya diketahui dari hasil stock opname di akhir periode.

3. Laba Kotor

Laba kotor adalah selisih antara penjualan bersih dan HPP. Angka ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam membeli dan menjual barang, sebelum mempertimbangkan biaya operasional.

Laba Kotor = Penjualan Bersih – HPP

Laba kotor yang tipis dibandingkan pendapatan bisa menjadi sinyal bahwa harga beli barang terlalu tinggi, atau harga jual terlalu murah untuk menutupi biaya perolehan barang.

4. Beban Operasional

Beban operasional mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan bisnis sehari-hari, selain HPP. Ini terbagi menjadi dua kelompok:

  • Beban penjualan: biaya yang langsung berkaitan dengan aktivitas penjualan, seperti gaji tenaga penjual, biaya iklan, dan biaya pengiriman barang ke pembeli.
  • Beban umum dan administrasi: biaya untuk menjalankan kantor dan administrasi, seperti gaji staf administrasi, sewa gedung, listrik, dan perlengkapan kantor.

5. Laba Operasional

Laba operasional menunjukkan hasil murni dari kegiatan operasional bisnis, setelah semua biaya penjualan dan administrasi dipotong dari laba kotor.

Laba Operasional = Laba Kotor – Beban Operasional

6. Pendapatan dan Beban Non-Operasional

Tidak semua pendapatan dan biaya berasal dari kegiatan utama perusahaan. Pendapatan bunga dari deposito, keuntungan penjualan aset, atau sebaliknya beban bunga pinjaman bank masuk dalam kelompok ini. Nilainya disesuaikan ke laba operasional untuk menghasilkan laba sebelum pajak.

7. Laba Bersih

Angka paling bawah dari laporan ini adalah laba bersih, yaitu hasil akhir setelah semua pendapatan dijumlahkan dan semua biaya serta pajak penghasilan dikurangi. Jika angkanya positif, perusahaan untung. Jika negatif, perusahaan rugi.

Laba Bersih = Laba Operasional + Pendapatan Non-Operasional – Beban Non-Operasional – Pajak Penghasilan

Format Single Step vs Multiple Step

Ada dua format penyusunan laporan laba rugi yang lazim digunakan oleh perusahaan dagang:

Format Single Step

Pada format ini, semua pendapatan dijumlahkan terlebih dahulu, kemudian semua biaya dijumlahkan, dan selisihnya adalah laba atau rugi bersih. Tidak ada pemisahan antara kegiatan operasional dan non-operasional.

Rumus dasarnya: Laba Bersih = (Total Pendapatan + Keuntungan) – (Total Biaya + Kerugian)

Format ini sederhana dan mudah dibuat, cocok untuk usaha kecil atau UMKM yang belum memerlukan perincian terpisah antara aktivitas operasional dan non-operasional.

Format Multiple Step

Format multiple step memisahkan setiap transaksi operasional dari yang bersifat non-operasional. Hasilnya lebih detail karena menampilkan beberapa level laba secara berurutan: laba kotor, laba operasional, laba sebelum pajak, hingga laba bersih.

Format ini cocok untuk bisnis menengah dan besar karena memberikan gambaran yang lebih transparan tentang dari mana laba berasal dan di mana biaya paling besar terjadi. Para investor dan kreditur biasanya lebih menyukai format ini karena informasinya lebih lengkap.

Baca juga: Brand Guideline Adalah: Panduan Lengkap untuk Bisnis

Contoh Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang

Berikut contoh sederhana laporan laba rugi perusahaan dagang dengan format multiple step untuk periode Januari-Desember 2025:

KeteranganJumlah (Rp)
Penjualan bruto500.000.000
Retur penjualan(10.000.000)
Potongan penjualan(5.000.000)
Penjualan bersih485.000.000
Persediaan awal barang dagangan80.000.000
Pembelian bersih250.000.000
Persediaan akhir barang dagangan(60.000.000)
HPP(270.000.000)
Laba kotor215.000.000
Beban penjualan(45.000.000)
Beban umum dan administrasi(35.000.000)
Laba operasional135.000.000
Pendapatan bunga5.000.000
Beban bunga(8.000.000)
Laba sebelum pajak132.000.000
Pajak penghasilan (22%)(29.040.000)
Laba bersih102.960.000

Cara Membuat Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang

Secara praktis, ada beberapa langkah yang perlu diikuti untuk menyusun laporan ini:

  1. Kumpulkan semua data transaksi dalam periode yang dilaporkan, termasuk bukti penjualan, nota pembelian, dan catatan beban.
  2. Hitung penjualan bersih dengan mengurangi retur dan potongan dari total penjualan bruto.
  3. Lakukan stock opname untuk mengetahui nilai persediaan akhir.
  4. Hitung HPP menggunakan rumus: persediaan awal + pembelian bersih – persediaan akhir.
  5. Kurangi HPP dari penjualan bersih untuk mendapatkan laba kotor.
  6. Daftarkan semua beban operasional dan kurangi dari laba kotor.
  7. Tambahkan atau kurangi pendapatan dan beban non-operasional.
  8. Hitung pajak penghasilan yang terutang, lalu kurangi dari laba sebelum pajak.

Kesalahan Umum dalam Menyusun Laporan Laba Rugi

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi, terutama pada bisnis yang baru mulai menyusun laporan keuangan secara formal:

Salah Menghitung HPP

HPP yang tidak akurat akan merusak seluruh laporan karena berdampak langsung ke angka laba kotor. Kesalahan yang paling umum adalah lupa memasukkan biaya angkut pembelian, atau tidak melakukan stock opname di akhir periode sehingga nilai persediaan akhir hanya berdasarkan perkiraan, bukan hitungan nyata. Standar akuntansi yang berlaku di Indonesia mengacu pada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) sebagai pedoman penyusunan laporan keuangan.

Mencampur Beban Pribadi dengan Beban Bisnis

Pada usaha kecil yang dijalankan pemilik secara langsung, sering kali biaya personal tercampur dengan biaya operasional bisnis. Ini membuat laba tampak lebih kecil dari yang sebenarnya dan menyulitkan analisis kinerja. Rekening bank bisnis harus terpisah dari rekening pribadi sejak awal.

Tidak Konsisten Mencatat Periode

Laporan laba rugi harus mencakup semua transaksi dalam periode yang sama. Memasukkan faktur dari bulan sebelumnya atau melupakan transaksi yang belum dicatat akan membuat perbandingan antar periode menjadi tidak valid dan menyesatkan.

Mengapa Laporan Ini Penting Dibuat Secara Rutin

Laporan laba rugi yang dibuat setiap bulan atau minimal setiap kuartal memberi pemilik bisnis gambaran yang jelas tentang kesehatan keuangan perusahaan. Kalau laba kotor terus menurun sementara penjualan stabil, ada masalah di sisi HPP yang perlu diatasi, mungkin harga beli barang naik atau ada kebocoran di proses pengadaan.

Bagi bisnis yang berencana mengajukan pinjaman ke bank atau menarik investor, laporan laba rugi adalah salah satu dokumen pertama yang diminta. Laporan yang rapi dan konsisten menunjukkan bahwa bisnis dikelola dengan serius. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laporan keuangan yang lengkap termasuk laporan laba rugi adalah syarat dasar dalam proses pengajuan kredit usaha.

Untuk perusahaan yang belum memiliki sistem akuntansi, membuat laporan ini secara manual menggunakan spreadsheet sudah cukup sebagai langkah awal. Yang terpenting adalah kebiasaan mencatat setiap transaksi secara konsisten sejak hari pertama.