Gulungan kain berbagai warna tersusun rapi di gudang pabrik tekstil sebagai bahan baku produksi

Contoh Bill of Material: Format, Jenis, dan Cara Membuatnya

TL;DR

Bill of Material (BOM) adalah daftar lengkap semua bahan baku, komponen, dan sub-assembly yang dibutuhkan untuk membuat satu unit produk jadi. Ada dua jenis utama: single level BOM untuk produk sederhana, dan multilevel BOM untuk produk dengan komponen bertingkat. BOM dipakai dalam perencanaan produksi, pengadaan bahan, dan penghitungan harga pokok produksi.

Sebelum satu unit produk selesai diproduksi, semua komponen penyusunnya harus sudah tersedia. Tapi bagaimana cara memastikan tidak ada yang terlewat, terutama jika produknya terdiri dari puluhan atau ratusan bagian? Di sinilah bill of material (BOM) berperan sebagai dokumen kontrol yang mengikat seluruh proses produksi.

Apa Itu Bill of Material (BOM)

Bill of material adalah dokumen yang mencantumkan daftar lengkap semua bahan baku, komponen, dan sub-assembly yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit produk jadi, lengkap dengan kuantitas yang diperlukan untuk setiap komponen. Dokumen ini biasa disingkat BOM.

BOM bukan sekadar daftar belanja. Ia menggambarkan struktur produk secara hierarkis: mana yang merupakan komponen utama, mana yang merupakan sub-assembly (rakitan antara), dan mana yang merupakan bahan dasar. Struktur ini penting agar tim produksi, pengadaan, dan akuntansi bekerja dengan pemahaman yang sama tentang apa yang dibutuhkan dan berapa banyaknya.

Menurut Accurate, BOM adalah fondasi dari sistem perencanaan kebutuhan material (MRP) yang digunakan di hampir semua perusahaan manufaktur modern.

Elemen Utama dalam Format Bill of Material

Format BOM yang lengkap biasanya memuat kolom-kolom berikut:

  • Nomor bagian (part number): kode unik untuk setiap komponen agar tidak tertukar saat pemesanan atau pencatatan.
  • Nama atau deskripsi komponen: nama lengkap dan spesifikasi yang cukup untuk membedakannya dari komponen serupa.
  • Level: posisi komponen dalam hierarki produk. Level 0 adalah produk jadi, level 1 adalah komponen langsung yang membentuk produk jadi, level 2 adalah komponen yang membentuk komponen level 1, dan seterusnya.
  • Kuantitas: berapa banyak komponen ini dibutuhkan untuk satu unit produk jadi.
  • Satuan ukuran: kilogram, meter, buah, liter, atau satuan lain yang relevan.
  • Keterangan buat atau beli (make or buy): apakah komponen ini diproduksi sendiri atau dibeli dari pemasok.

Jenis-Jenis Bill of Material

Single Level BOM

Single level BOM adalah format paling sederhana, di mana semua komponen langsung dicantumkan tanpa hierarki bertingkat. Cocok untuk produk dengan struktur sederhana yang tidak punya sub-assembly.

Contohnya: BOM untuk membuat satu porsi kopi susu gula aren. Komponennya langsung: espresso (30 ml), susu segar (150 ml), gula aren cair (20 ml), es batu (100 gr). Tidak ada sub-komponen yang perlu dirakit terlebih dahulu.

Multilevel BOM

Multilevel BOM digunakan untuk produk yang lebih kompleks di mana beberapa komponen harus dirakit menjadi sub-assembly sebelum bergabung ke produk akhir. Ini adalah format yang paling umum di industri manufaktur.

Contoh: BOM untuk sepeda. Level 0 adalah sepeda jadi. Level 1 mencakup rangka, sistem roda, dan sistem kemudi. Level 2 mencakup komponen-komponen yang membentuk setiap level 1, misalnya sistem roda terdiri dari: roda depan, roda belakang, dan rantai. Level 3 mencakup komponen dari setiap roda: velg, jari-jari, ban dalam, dan ban luar.

Baca juga: Brand Guideline Adalah: Pengertian dan Cara Membuatnya

Contoh Bill of Material Sederhana: Tas Ransel

Berikut contoh BOM untuk produksi satu unit tas ransel dalam format tabel:

LevelKode KomponenNama KomponenKuantitasSatuanBuat/Beli
0TR-001Tas Ransel Jadi1Pcs
1TR-101Badan Tas (sudah dijahit)1PcsBuat
1TR-102Tali Pundak (sepasang)1SetBuat
1TR-103Ritsleting Utama1PcsBeli
1TR-104Ritsleting Kantong Depan2PcsBeli
2TR-201Kain Cordura 600D1.5MeterBeli
2TR-202Kain Furing0.8MeterBeli
2TR-203Busa Tali0.4MeterBeli
2TR-204Benang Jahit (warna sesuai)2GulungBeli

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa badan tas (level 1) masih perlu dirakit dari beberapa bahan di level 2. Ini yang disebut sub-assembly: komponen yang dibuat dari bahan-bahan lebih dasar sebelum bergabung ke produk akhir.

Manfaat Bill of Material dalam Operasional Bisnis

BOM bukan hanya dokumen teknis untuk tim produksi. Kegunaannya menyebar ke beberapa fungsi bisnis:

Perencanaan kebutuhan bahan baku. Dengan BOM yang akurat, tim pengadaan bisa menghitung berapa banyak bahan yang perlu dipesan untuk memenuhi target produksi bulan ini. Tanpa BOM, perencanaan ini mengandalkan perkiraan yang rawan salah.

Perhitungan harga pokok produksi (HPP). BOM adalah dasar untuk menghitung berapa biaya material yang masuk ke setiap unit produk. Ini penting untuk menentukan harga jual yang menguntungkan.

Kontrol kualitas. BOM yang mencantumkan spesifikasi bahan memudahkan tim QC memverifikasi apakah komponen yang masuk sesuai standar sebelum masuk ke proses produksi.

Pengelolaan perubahan produk. Ketika ada revisi desain atau penggantian komponen, BOM yang terdokumentasi memudahkan identifikasi dampak perubahan tersebut ke kebutuhan bahan secara keseluruhan.

Cara Membuat Bill of Material yang Benar

Membuat BOM tidak harus langsung menggunakan software khusus. Untuk bisnis kecil atau produk sederhana, Microsoft Excel atau Google Sheets sudah cukup. Langkah dasarnya:

  1. Tentukan produk akhir yang akan didokumentasikan (level 0).
  2. Identifikasi semua komponen dan sub-assembly langsung yang membentuk produk akhir (level 1).
  3. Untuk setiap sub-assembly, identifikasi komponen-komponen yang membentuknya (level 2, 3, dst).
  4. Tentukan kuantitas yang dibutuhkan untuk setiap komponen per satu unit produk jadi.
  5. Beri kode unik untuk setiap komponen.
  6. Tandai mana yang dibuat sendiri dan mana yang dibeli dari pemasok.

Menurut HashMicro, kesalahan paling umum dalam membuat BOM adalah tidak menyertakan komponen pendukung seperti benang, lem, sekrup, atau bahan pengemas yang jumlahnya kecil tapi tetap berpengaruh pada biaya dan ketersediaan stok.

Menurut Mekari Jurnal, perusahaan yang menerapkan BOM secara konsisten dan akurat bisa mengurangi pemborosan bahan baku hingga 20-30% karena perencanaan kebutuhan menjadi lebih presisi dibanding yang mengandalkan perkiraan manual.

Contoh bill of material yang sudah dibuat dengan benar adalah aset jangka panjang bagi bisnis manufaktur. Ia bukan hanya dokumen sekali pakai, tapi referensi hidup yang perlu diperbarui setiap kali ada perubahan pada desain produk, spesifikasi bahan, atau proses produksi.